Home » Living » Pasangan Ini Hadapi 4 Cobaan Berat Sebelum Hari H – Yang Terakhir Malah Jadi Berkah Tak Terduga

Pasangan Ini Hadapi 4 Cobaan Berat Sebelum Hari H – Yang Terakhir Malah Jadi Berkah Tak Terduga

pengelola 23 Des 2025 4

Di sebuah kampus tua di Yogyakarta, Adit dan Rina bertemu tanpa rencana besar. Adit sedang sibuk menggambar sketsa gedung di bangku belakang kelas, sementara Rina duduk di depan, mencatat dengan rapi.

Bertahun-tahun kemudian, setelah lulus, bekerja, dan menabung pelan-pelan, mereka memutuskan menikah.

Bukan karena tekanan usia atau keluarga, tapi karena sudah waktunya. Mereka ingin pernikahan sederhana: akad di masjid kecil, resepsi outdoor di pinggiran Jogja, dengan nuansa adat Jawa yang hangat tapi tidak berlebihan.

Tamu sekitar 400 orang, cukup keluarga dekat, teman kuliah, dan rekan kerja.

Persiapan dimulai sembilan bulan sebelumnya. Mereka duduk di teras kontrakan kecil setiap malam, buat daftar, hitung budget, dan bayangkan hari itu.

Awalnya semua terasa mudah. Mereka booking villa dengan halaman luas menghadap sawah, pilih kebaya warna sage untuk

Rina, beskap hitam polos untuk Adit, dekorasi bambu dan janur kuning, undangan digital untuk hemat, dan rias pengantin dari rekomendasi teman.

Tapi seperti kebanyakan pasangan, cobaan datang satu per satu. Ada empat yang paling berat—dan yang terakhir, justru menjadi berkah yang tak mereka duga.

Cobaan pertama: budget yang terus membengkak.

Perkiraan awal Rp130 juta, tapi setiap kali survei vendor, angka naik.

Tenda outdoor butuh yang waterproof, lighting tambahan, sound system cadangan, souvenir naik harga karena inflasi.

Adit ambil freelance malam-malam, Rina tambah kelas privat. Mereka potong dekorasi mewah, ganti bunga asli dengan yang semi-artificial, batasi cetak undangan hanya untuk orang tua.

Tapi tetap saja, tabungan menipis lebih cepat dari rencana. Ada malam-malam mereka duduk diam, hanya saling pegang tangan, tak tahu harus potong apa lagi.

Cobaan kedua: cuaca yang tak bisa diprediksi.

Mereka pilih outdoor karena ingin tamu merasakan angin sawah dan langit terbuka khas Jogja. Tapi dua bulan sebelum hari H, musim hujan datang lebih awal.

Hampir setiap sore hujan deras. Villa yang indah itu tiba-tiba terlihat rapuh—halaman bisa becek, tenda bisa bocor, tamu basah.

Vendor tenda menawarkan upgrade, tapi biaya naik lagi. Rina mulai gelisah. “Kalau hujan seharian gimana?” tanyanya pelan. Adit hanya jawab, “Kita siapkan plan B. Yang penting kita tetap nikah.”

Cobaan ketiga: perbedaan visi dengan keluarga.

Orang tua Adit ingin prosesi adat lengkap—siraman, midodareni dengan tari, tuwuhan, temanten mlaku.

Orang tua Rina ingin yang ringkas—akad, panggih, sungkeman, selesai. Diskusi keluarga besar sering memanas. Ada saat suara naik, ada saat diam lama.

Adit dan Rina jadi penengah, mendengarkan semua, mencari jalan tengah.

Akhirnya disepakati versi sedang: siraman dan midodareni tetap ada, tapi tanpa tari profesional, cukup keluarga bernyanyi dan berdoa bersama.

Proses itu melelahkan, tapi juga mengajarkan mereka sabar.

Cobaan keempat: catering yang sulit ditemukan.

Inilah yang paling bikin pusing. Mereka sudah coba lima vendor terkenal di Catering Jogja. Ada yang rasanya biasa saja, ada yang pelayanan buruk di acara outdoor, ada yang harga terlalu tinggi untuk kualitas standar.

Mereka takut makanan dingin saat hujan, antre panjang, atau tamu pulang kecewa.

Beberapa kali tasting, mereka pulang dengan hati berat. “Ini bagian terpenting, loh,” kata Rina. “Kalau makanannya enak, tamu ingat pernikahan kita dengan senang.”

Saat hampir menyerah dan mempertimbangkan catering biasa saja demi hemat, teman kuliah mereka menghubungi. “Coba deh Catering Pernikahan Jogja by Aflah Catering.

Kami pakai tahun lalu, puas sekali. Rasanya enak, porsi banyak, dan mereka spesialis outdoor.”

Adit dan Rina datang ke kantor Aflah di Condongcatur. Ruang tasting bersih, aroma masakan langsung menggoda.

Mereka disambut ramah, diberi free tasting lengkap: sop manten yang hangat gurih, ayam kremes renyah, gurame bakar kecap, sambal goreng krecek, capcay segar, dan gubukan dawet ayu serta es campur yang menyegarkan.

Semuanya halal, higienis, dan rasa seperti masakan rumah tapi disajikan level hotel.

Yang membuat mereka langsung tenang adalah profesionalitas tim.

Pramusaji satu untuk 25 tamu, pakai seragam lengkap dengan hygiene kit, food warmer berkualitas, stok cadangan untuk tambah porsi dadakan, dan pengalaman ribuan acara di seluruh Jogja. Mereka juga fleksibel—bisa custom menu, handle cuaca buruk dengan setup cepat, dan tetap tenang meski tamu membludak.

Kontrak ditandatangani minggu itu juga. Beban terberat di pundak mereka akhirnya terangkat. Cobaan keempat, yang tadinya terasa seperti akhir dari harapan, malah menjadi berkah tak terduga. Mereka tak lagi khawatir soal makanan—malah mulai excited membayangkan tamu menikmati hidangan.

Hari H tiba. Pagi itu langit cerah setelah hujan semalam. Udara segar, sawah hijau berkilau. Akad nikah berlangsung khidmat di masjid kecil. Suara ijab kabul Adit tegas, Rina menangis haru.

Prosesi panggih di halaman villa berjalan lancar—lempar sirih, injak telur, timbang duduk—diiringi gamelan sederhana.

Resepsi dimulai siang. Tamu datang lebih banyak dari perkiraan—hampir 550 orang. Tapi tim Aflah sudah siap. Prasmanan rapi, makanan panas, porsi melimpah.

Ayam kremes habis berkali-kali ditambah, sop manten jadi favorit, gubukan tak pernah kosong. Pramusaji sigap dan ramah. Bahkan saat gerimis turun sebentar, tenda kuat, lantai tetap kering, makanan aman.

Tamu pulang dengan senyum dan perut kenyang.

Banyak yang menyapa Adit dan Rina, “Masakannya enak banget, seperti masak sendiri tapi lebih istimewa.” Senja turun, lampu bambu menyala lembut. Adit dan Rina duduk sebentar di pinggir pelaminan, saling pandang. Tak ada kata-kata besar. Hanya senyum kecil dan genggaman tangan.

Malam itu, setelah semua selesai, mereka duduk di pendopo kecil. Hujan gerimis lagi, tapi semuanya aman. “Kita lewati ya,” bisik Rina. Adit mengangguk. “Bersama.”

Setahun kemudian, mereka sering mengenang masa itu sambil duduk di teras rumah kecil mereka. Cobaan budget, cuaca, keluarga, dan catering—semuanya terasa jauh sekarang.

Yang tersisa hanya cerita tentang bagaimana mereka belajar sabar, kompromi, dan percaya bahwa di balik setiap kesulitan ada jalan keluar. Bahkan yang terakhir, yang tadinya paling ditakuti, malah jadi berkah yang membuat hari itu dikenang tamu dengan hangat.

Jika kamu sedang mempersiapkan pernikahan, ingat: cobaan akan datang, tapi itu bagian dari perjalanan. Yang penting, kalian melangkah bersama, dan terbuka pada bantuan yang datang di saat tepat. Langkah demi langkah, hari istimewa itu akan tiba—sederhana, tapi penuh makna.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Ketika Seorang Ayah Pulang Demi Aqiqah Anaknya

pengelola

09 Des 2025

Ada cerita yang sering tersembunyi di balik sebuah acara aqiqah—bukan hanya tentang kambing, paket masakan, atau hidangan. Ada perjalanan. Ada doa. Ada air mata haru. Dan ada seorang ayah yang memendam rindu begitu lama, hingga akhirnya pulang untuk sebuah momen yang hanya terjadi sekali seumur hidup. Inilah kisah seorang ayah perantau bernama Rafi, yang bekerja …

7 Hal yang Wajib Kamu Siapin Kalau Mau Nikah di Jogja Biar Nggak Panik di Hari H

pengelola

08 Des 2025

Mau nikah di Jogja itu impian banget, tapi kalau nggak dipersiapkan matang-matang, bisa-bisa malah jadi drama. Tenang, aku bantu urutin 7 hal paling krusial yang biasanya bikin calon pengantin baru sadar “aduh kok lupa ya”. Yuk simak biar pernikahanmu lancar, hemat tenaga, dan tetep romantis. 1. Tentuin Konsep Pernikahan dari Awal Sebelum apa-apa, duduk berdua …

Muslimah Jatuh Cinta

pengelola

26 Jul 2020

Perasaan cinta merupakan suatu perasaan yang pasti pernah dirasakan oleh setiap manusia, karena ia adalah anugerah dari Allah SWT. Rasa cinta terhadap lawan jenis, pria cinta terhadap wanita, dan sebaliknya, merupakan fitrah yang Allah SWT sertakan dalam setiap diri manusia. Diciptakannya pria dan wanita serta fitrah Rasa cinta yang tumbuh dalam diri manusia ini tidak …