Home » Living » Ketika Seorang Ayah Pulang Demi Aqiqah Anaknya

Ketika Seorang Ayah Pulang Demi Aqiqah Anaknya

pengelola 09 Des 2025 45

Ada cerita yang sering tersembunyi di balik sebuah acara aqiqah—bukan hanya tentang kambing, paket masakan, atau hidangan.

Ada perjalanan. Ada doa. Ada air mata haru. Dan ada seorang ayah yang memendam rindu begitu lama, hingga akhirnya pulang untuk sebuah momen yang hanya terjadi sekali seumur hidup.

Inilah kisah seorang ayah perantau bernama Rafi, yang bekerja ribuan kilometer jauh dari Jogja.
Kisah ini bermula dari sebuah kabar sederhana: kelahiran putra pertamanya.


Kelahiran yang Tak Bisa Dihadiahi Pelukan

Rafi bekerja di sebuah perusahaan konstruksi di luar Jawa. Pekerjaan berat dengan jadwal yang padat membuatnya jarang pulang.
“Demi masa depan anakku,” begitu ia selalu meyakinkan istrinya.

Telepon itu berdering pukul 03.27 dini hari.

“Mas… aku sudah melahirkan… Alhamdulillah, anak kita laki-laki…”

Rafi memejamkan mata. Ada bahagia, ada syukur, tapi juga ada luka kecil di hatinya.
Ia ingin berada di sana. Ia ingin mendengar tangis pertama itu langsung, bukan lewat voice note.

Namun kerja adalah kerja, dan hidup tidak selalu menawarkan pilihan manis.

Hari-hari berikutnya, Rafi menjalani rutinitas seperti biasa, tetapi pikirannya melayang pada seorang bayi mungil yang belum pernah ia sentuh.
Dunia terus bergerak, tetapi di dadanya ada kerinduan yang berhenti di satu titik.


Tekad Pulang untuk Aqiqah

Dua minggu kemudian, istrinya mengirim pesan:


“Mas, kalau bisa pulang waktu aqiqahan ya. Walau cuma sehari.”

Aqiqah—sebuah ibadah yang dilakukan sebagai bentuk syukur atas kelahiran.
Sebuah momen yang hanya terjadi sekali.
Dan Rafi merasa: ia tidak boleh melewatkannya lagi.

Ia mulai menghitung jadwal cuti, mencari tiket, bahkan menjual satu-satunya jam tangan yang ia beli dari bonus lembur demi tiket pesawat pulang.

“Saya harus ada di sana,” katanya pada mandornya.

Mandornya menghela napas tapi akhirnya mengangguk.
“Pulanglah. Anak cuma lahir sekali.”

Itulah awal perjalanan Rafi pulang ke Jogja, menjalani misi sederhana:
menjadi ayah yang hadir.


Tiba di Rumah yang Sudah Berbeda

Rafi tiba menjelang subuh. Udara dingin menyambutnya di depan rumah.
Tetapi hangat begitu melihat sang istri membuka pintu dengan wajah lelah namun bahagia.

Lalu, ia melihat bayi itu.
Kecil. Tenang. Wangi. Menggemaskan.

Untuk pertama kali, tangan Rafi gemetar ketika menyentuh pipi mungil itu.
Air matanya jatuh tanpa ia sadari.

“Maaf ya, Nak… Ayah baru bisa pulang sekarang.”

Tak ada jawaban, tentu saja. Hanya hembusan napas kecil dan senyum samar bayi yang membuat hati Rafi luluh.


Persiapan Aqiqah yang Membawa Kedamaian

Keesokan harinya, mereka mulai mempersiapkan aqiqah.
Istrinya berkata:


“Mas, aku sudah cari-cari layanan yang amanah, masakannya enak, dan bisa diandalkan. Banyak tetangga merekomendasikan AFLAH.”

Rafi mengangguk. Ia membaca website Aqiqah Jogja dari AFLAH, dan merasakan sesuatu yang berbeda:

  • Layanannya rapi dan profesional
  • Menu masakan lengkap dan menggugah selera
  • Testimoni pelanggan nyata dan penuh rasa syukur
  • Penyembelihan sesuai syariah
  • Proses dokumentasi jelas
  • Ada pembagian box makan yang praktis
  • Gratis ongkir, diantar sampai rumah
  • Sesuai Sunnah

“Apa ini benar-benar semudah yang tertulis?” tanya Rafi.

Ternyata, ya. Bahkan lebih dari itu.

Ketika mereka menghubungi tim AFLAH, suara ramah di ujung telepon membuat mereka langsung merasa tenang.


“InsyaAllah, Pak, semuanya kami bantu. Tinggal pilih paket, jadwal, dan alamat. Kami yang siapkan semuanya.”

Rafi merasa seperti sedang memegang tangan seseorang yang memandu keluarganya dalam ibadah.


Hari Aqiqah – Ketika Rumah Dipenuhi Doa

Pagi itu, rumah Rafi penuh aroma masakan.
Dapur tidak sibuk, istrinya tidak kelelahan, dan Rafi bisa fokus menggendong putranya sembari menunggu prosesi.

Tim AFLAH datang tepat waktu. Membawa paket lengkap—box makanan, dokumentasi, dan semuanya terasa sangat profesional.

Proses penyembelihan berlangsung khidmat.
Ada doa, ada haru, ada rasa syukur yang membuncah.

Rafi melihat anaknya, lalu berbisik:

“Semoga hidupmu penuh berkah, Nak. Semoga aqiqah ini menjadi awal kebaikan.”

Selanjutnya, hidangan dari AFLAH dibagikan ke tetangga.
Semua memuji rasa masakannya.
Ada yang berkata:

“Ini bumbunya enak sekali, pesen di mana?”
“Wah, porsinya pas dan bersih.”
“Profesional banget, Mas. Mantap ini.”

Rafi dan istrinya saling menatap.
Ada haru, ada bangga, ada persen kecil rasa lega.

Mereka merasa telah melakukan pilihan yang tepat.


Obrolan dengan Mertua – “Aqiqah Itu Bukan tentang Kambing”

Sore itu, Rafi duduk bersama mertuanya di teras.
Angin berhembus pelan, suara anak-anak bermain terdengar dari kejauhan.

Mertuanya berkata:


“Aqiqah itu bukan sekadar menyembelih kambing. Ini tentang syukur. Tentang momen keluarga. Tentang doa-doa yang kita kirimkan untuk masa depan anak ini.”

Rafi mengangguk, menatap langit sore Jogja yang penuh kehangatan.

“Aku baru benar-benar merasakannya sekarang, Pak.”

Mertuanya tersenyum pelan.


“Kamu pulang untuk aqiqah. Itu saja sudah menunjukkan kamu ayah yang baik.”

Kalimat itu menancap dalam di hati Rafi.


Mengapa AFLAH Begitu Berkesan?

Setelah acara selesai, Rafi dan istrinya membahas pengalaman mereka.

“Kenapa banyak orang memilih AFLAH?” tanya istrinya sambil menidurkan sang bayi.

Rafi menjawab:


“Karena mereka bukan sekadar menyajikan makanan. Mereka membantu kita menjalankan ibadah.”

Dan itu benar.
Saat keluarga sedang sibuk mengurus bayi, AFLAH hadir memberikan ketenangan.

Mulai dari pemilihan kambing, prosesi, masakan, hingga distribusi paket—semua dilakukan dengan niat baik.

Bahkan, masakan yang disajikan terasa seperti masakan rumah, bukan sembarangan katering. Tidak heran banyak yang kemudian tertarik mencoba layanan lain seperti catering jogja dari grup usaha yang sama.


Malam Terakhir Sebelum Kembali Merantau

Malam itu, rumah sudah sepi. Aqiqah selesai dengan indah.
Bayinya tidur pulas, dan istrinya duduk bersandar di bahu Rafi.

“Mas puas?” tanya istrinya pelan.

Rafi menatap anaknya lama.

“Lebih dari puas. Aku pulang sebagai ayah yang tidak lagi ketinggalan momen besar.”

Istrinya meraih tangannya.

“Aflah bantu banyak ya?”
“Iya. Tanpa mereka, kita pasti sibuk sendiri.”

Ada kehangatan yang sulit digambarkan.
Rumah kecil itu penuh berkah setelah aqiqah.
Dan Rafi merasa: hidupnya berubah.

Besok ia harus kembali merantau.
Namun kali ini hatinya lebih tenang.
Karena ia telah ada di momen paling penting.
Karena aqiqah putranya berjalan sempurna.
Dan karena ia tahu sebuah layanan telah memudahkan keluarganya menjalankan sunnah dengan baik.


Pesan untuk Para Ayah Perantau

Kisah Rafi adalah kisah banyak ayah di luar sana.

Ayah yang bekerja jauh.
Ayah yang melewatkan banyak hal, tapi selalu merindukan rumah.
Ayah yang mungkin sering dianggap tidak hadir, padahal hatinya selalu di keluarga.

Untuk para ayah perantau:

Ketahuilah bahwa hadir bukan selalu soal jarak. Kadang hadir adalah soal pilihan.

Rafi memilih pulang.
Dan Allah memudahkan semuanya—termasuk lewat layanan aqiqah yang amanah seperti AFLAH.


Aqiqah yang Bukan Sekadar Seremonial

Aqiqah adalah ibadah.
Ia adalah bentuk syukur.
Ia adalah doa yang dilangitkan untuk masa depan anak.

Dan ketika sebuah layanan membantu keluarga melaksanakannya dengan tenang, rapi, dan profesional, itu bukan sekadar “jasa”—itu adalah bagian dari perjalanan spiritual keluarga.

Itulah mengapa semakin banyak keluarga di Jogja memilih Aqiqah Jogja dari AFLAH.

Karena mereka bukan hanya menjual paket aqiqah.
Mereka membantu keluarga mengukir momen yang kelak dikenang dengan air mata kebahagiaan.


Doa untuk Setiap Anak dan Keluarga

Di akhir cerita ini, mari kita panjatkan doa untuk setiap anak yang diaqiqahi:


“Semoga ia tumbuh menjadi anak yang saleh, membawa kedamaian, membuka pintu rezeki, dan menjadi cahaya bagi keluarganya.”

Dan semoga setiap ayah—perantau maupun tidak—bisa merasakan indahnya momen kebersamaan dalam ibadah.

Rafi menatap anaknya untuk terakhir kalinya sebelum kembali merantau.
Ia tersenyum.


“Ayah pulang hanya untuk kamu, Nak. Dan ayah akan selalu pulang.”

Aqiqah itu mungkin hanya sehari, tetapi maknanya bertahan seumur hidup.

Baca Juga:  7 Hal Yang Harus Dipersiapkan Sebelum Pernikahan

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Pasangan Ini Hadapi 4 Cobaan Berat Sebelum Hari H – Yang Terakhir Malah Jadi Berkah Tak Terduga

pengelola

23 Des 2025

Di sebuah kampus tua di Yogyakarta, Adit dan Rina bertemu tanpa rencana besar. Adit sedang sibuk menggambar sketsa gedung di bangku belakang kelas, sementara Rina duduk di depan, mencatat dengan rapi. Bertahun-tahun kemudian, setelah lulus, bekerja, dan menabung pelan-pelan, mereka memutuskan menikah. Bukan karena tekanan usia atau keluarga, tapi karena sudah waktunya. Mereka ingin pernikahan …

7 Hal yang Wajib Kamu Siapin Kalau Mau Nikah di Jogja Biar Nggak Panik di Hari H

pengelola

08 Des 2025

Mau nikah di Jogja itu impian banget, tapi kalau nggak dipersiapkan matang-matang, bisa-bisa malah jadi drama. Tenang, aku bantu urutin 7 hal paling krusial yang biasanya bikin calon pengantin baru sadar “aduh kok lupa ya”. Yuk simak biar pernikahanmu lancar, hemat tenaga, dan tetep romantis. 1. Tentuin Konsep Pernikahan dari Awal Sebelum apa-apa, duduk berdua …

Muslimah Jatuh Cinta

pengelola

26 Jul 2020

Perasaan cinta merupakan suatu perasaan yang pasti pernah dirasakan oleh setiap manusia, karena ia adalah anugerah dari Allah SWT. Rasa cinta terhadap lawan jenis, pria cinta terhadap wanita, dan sebaliknya, merupakan fitrah yang Allah SWT sertakan dalam setiap diri manusia. Diciptakannya pria dan wanita serta fitrah Rasa cinta yang tumbuh dalam diri manusia ini tidak …